Cerita Kureng 4 Hari Terjebak Banjir Aceh Tamiang, yang Tersisa Hanya Baju di Badan

Kondisi Aceh Tamiang pasca banjir. Foto direkam pada Rabu (3/12) malam. Foto: Humas Pemprov Aceh
banner 468x60

KUALA SIMPANG – Air bah itu datang seperti makhluk besar yang mengamuk. Tanpa aba-aba, ia menerobos pemukiman warga di Karang Baru, Aceh Tamiang, merobek rumah, menyeret barang, dan memaksa ratusan keluarga bertahan hanya dengan apa yang melekat di badan.

Ishak alias Kureng, warga Desa Menang Gini, masih tampak limbung ketika mengenang detik-detik banjir menerjang.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Banjir hari Rabu mulai naik, malam Kamis sudah dua meter lebih. Hari Kamis bertambah lagi sampai malam Jumat kira-kira 3,5 meter,” kata Kureng, Rabu (3/12) malam.

Banjir itu bukan hanya tinggi—ia bergerak cepat, menjadi ancaman yang tak memberi ruang untuk menoleh.

“Hari Jumat baru mulai reda pelan-pelan, dan Sabtu kami bisa keluar cari makan. Kami terjebak sekitar empat hari empat malam.”

Ishak bersama sekitar 50 warga lain akhirnya mengungsi ke kantor KPA, menyusul ratusan warga dari desa sekitar yang juga memilih tempat itu sebagai pelarian terakhir. Arus yang menghantam desa, katanya, tak memberi kesempatan untuk menyelamatkan harta benda.

“Arus banjir kencang sekali, rumah hancur semua. Yang paling dibutuhkan sekarang makanan, air bersih, dan obat-obatan untuk bayi. Banyak anak sudah demam,” ujarnya.

“Saat banjir, yang diselamatkan cuma keluarga. Yang tersisa hanya baju di badan.”

Kisah senada datang dari Wahyu Putra Pratama, warga Kampung Dalam, Karang Baru. Malam itu, setelah Magrib, ia melihat air mulai menyusup masuk ke rumah. Tak ada waktu untuk berpikir panjang.

“Selesai Magrib, air sudah masuk. Kami langsung mengungsi ke tempat kantor KPA yang dekat karena banyak anak kecil, alhamdulillah selamat,” tuturnya.

Di luar, gelombang air naik secepat deru napas. “Air naik cepat sekali, setinggi kabel listrik, sekitar tiga meter. Rumah sudah hancur semua.”

Wahyu menggambarkan hari-hari mereka sebagai pengungsi tak ubahnya perjuangan mempertahankan hidup. Tak ada pasokan makanan, tak ada bantuan yang bisa masuk.

“Kami cari kelapa, pisang, apa saja. Berenang sambil ikat pinggang supaya tidak hanyut. Air naik hanya dalam satu setengah jam langsung tiga meter,” ujarnya.

“Kami terjebak lima hari lima malam. Hari keenam pagi baru surut.”

Ketika air akhirnya mundur, desa itu berubah seperti wilayah pasca-perang. Ratusan rumah rata dengan tanah, menyisakan puing dan kenangan yang terbenam lumpur.

“Dari 100 persen, hanya 20 persen yang tersisa,” katanya lirih.

Ia juga menyebut jumlah korban yang mereka saksikan begitu besar, sulit diproses oleh nalar.

“Korban jiwa sekitar 250 orang, termasuk sekitar 150 yang belum ditemukan. Ini tsunami, cuma bedanya air sungai. Baru kali ini kami merasakan bencana sebesar ini.” []

Pos terkait

banner 468x60